Winona Ryder Kamu
Winona Ryder Kamu
Apakah kebencian Noni pada Hollywood dan tuntutan penggemar adalah hal yang mengada-ada? Mungkin, bagi sebagian bintang yang punya kehidupan wajar sejak kecil, jawabannya adalah anggukan.
Tapi, bagi Noni, tekanan hidup sebagai bintang memang begitu berat.
Tanpa sadar, ia banyak melakukan hal-hal yang merugikan reputasinya.
Ia bisa seenak hati menggagalkan perjanjian kerja, bersikap
nyeleneh seperti berciuman dengan teman wanita, atau terlibat pertengkaran dengan sesama bintang.
Sekian lama bersabar menjadi bintang yang selalu ‘bersandiwara’, ternyata ada batasnya.
GEMAR PERAN MENANTANG
Reputasi Noni sebagai bintang berkepribadian ‘aneh’, dengan mudah memancing komentar khalayak tentang berbagai peran yang dimainkannya.
Orang bisa dengan mudah mengambil kesimpulan, bahwa pribadi Noni tak berbeda dengan peran ‘aneka warna’ yang dibawakannya.
Noni memang identik dengan peran berkarakter ‘tidak biasa’.
Tengok saja perannya sebagai pengantin cilik yang lugu dalam film
Great Balls of Fire, jadi ikan duyung yang menggoda dalam film
Mermaids, atau jadi preman bertato dan merokok pula! dalam
Night on Earth.
Tuduhan bahwa ia mengidap kepribadian ganda pun merebak.
Noni sempat
shock, tapi selanjutnya ia memilih tak peduli.
Noni sadar, itulah risiko yang harus ditanggungnya sebagai pemain watak.
Apalagi, dia memang suka peran-peran yang berbeda dan aneh, seperti wanita jalang, pesakitan, atau
alien.
Baginya, peran semacam itu justru lebih menantang, daripada sekadar memerankan wanita seksi dan manis.
Tak heran, bila Noni kadang-kadang bersikap sinis terhadap film-film yang ‘lurus’.
“Lihat saja film
Runaway Bride.
Film roman-komedi semacam itu sama sekali tidak ada nilai bobotnya.
Itu bukan film yang menarik untuk dijadikan bahan diskusi,” katanya, blakblakan.
Ia lalu melaju dengan peran-peran yang lebih unik.
Seperti dalam film
Edward Scissorhands bersama mantan tunangannya, aktor
Johnny Depp
,
Bram Stoker’s Dracula arahan sutradara
Francis Ford Coppola
, dan
The House of the Spirits bersama aktor
Antonio Banderas
.
Peran wataknya yang terbilang sukses adalah saat ia beradu akting dengan
Daniel Day-Lewis
dalam film
The Age of Innocence arahan sutradara
Martin Scorsese
, yang diadaptasi dari kisah karangan Edith Wharton.
Lantaran akting cemerlangnya di film itu, Noni mendapat nominasi
Best Supporting Actress Oscar!
Sementara itu, hobinya menenggak minuman beralkohol makin menjadi.
Juga obat-obat penenang.
Sungguh ironis kehidupannya.
Di luar rumah, ia bintang yang cemerlang, di dalam rumah ia wanita yang susah-payah mencari pelarian untuk menenangkan diri.
Meski orang-orang terdekatnya bolak-balik memperingatkan bahwa perilakunya akan mendatangkan bencana, Noni tak terlalu peduli.
Banyak pihak mengatakan, sesungguhnya kesendirian Noni sangat berpengaruh terhadap rasa frustrasi yang ia derita.
“Ketika masih didampingi Johnny Depp, Noni memiliki tempat untuk berbagi rasa.
Setelah hubungan itu bubar, Noni tidak bisa begitu saja menemukan pengganti.
Sementara, pada saat yang sama, tekanan demi tekanan muncul,” tutur sumber terdekatnya.
Namun, bagaimanapun, Noni tetap bisa menggelindingkan kariernya dengan sukses.
Akting Noni makin matang dan mengesankan.
Berikutnya, ia kembali mendapat nominasi
Best Actress Oscar untuk perannya sebagai Jo March dalam film
Little Women, yang diadaptasi dari cerita karya
Gillian Armstrong
.
Setelah itu, berturut-turut Noni main di film
Reality Bites, How to Make an American Quilt 1995, dan
The Crucible 1996 bersama
Daniel Day-Lewis
.
Meski aktingnya dalam tiga film tersebut tidak secemerlang sebelumnya, peran yang dilakoni Noni lumayan unik, mulai dari wanita yang gamang menghadapi dunia kerja sampai wanita yang dituduh berselingkuh.
Noni sendiri menyebut, perannya sebagai Abigale Williams dalam
The Crucible, yang ceritanya diadaptasi dari karya
Nicholas Hytner
itu, memang agak ‘jalang’.
"Itu peran paling panas yang pernah saya mainkan,” katanya tertawa.
“Belum pernah,
lho, saya mendapatkan peran seberat ini.
Meski saya tetap berpakaian lengkap saat melakukan adegan percintaan, tetap saja adegan itu sungguh erotis!” kata Noni, menceritakan akting panasnya dengan aktor Daniel Day-Lewis dalam
The Crucible.
Tapi, bukan adegan hot itu yang menjadi alasan Noni menerima peran sebagai Abigale, melainkan keindahan kata-kata dalam naskah
The Crucible.
“Sangat puitis,” kata Noni.
“Seandainya saya gagal mendapatkan peran Abigale, saya akan mengurung diri dalam kamar tidur dan mulai beraksi sebagai Abigale, karena saya sungguh ingin mengucapkan kata-katanya yang indah itu,” tambahnya.
MELAWAN TEKANAN
Sekian lama berusaha berkompromi dengan lingkungan, lama-kelamaan Noni tak tahan mengeluarkan sifap aslinya: pemberontak.
“Popularitas ternyata menjadi beban berat bagi saya.
Tidak pernah terlintas dalam benak saya, bahwa untuk menjadi seorang bintang saya harus tampil sempurna luar-dalam,” katanya.
Pelan-pelan ia mulai bertingkah.
Salah satunya adalah tak lagi berbasa-basi menolak peran jika ia tak suka, meskipun sebelumnya ia sudah membuat janji pada produser.
Padahal, peran yang ditawarkan kepadanya tidak sembarangan, antara lain film
Sabrina, Object of My Affection, Conspiracy Theory, dan
The Godfather Part III.
Ia juga menjadi sangat sensitif.
Ketika audisi
Shakespeare In Love digelar, ia termasuk bintang yang diincar sebagai pemeran utama.
Saking bangganya mendapat kesempatan itu, ia dengan bersemangat bercerita kepada sahabatnya waktu itu,
Gwyneth Paltrow
.
“Saya mengungkapkan gairah saya untuk berakting di film itu, dan bolak-balik menceritakan skenario yang sudah saya baca pada Gwyneth,” kenang Noni.
Kenyataannya, seperti yang diketahui, malah Gwyneth yang memperoleh peran itu.
Dan, mendapat piala Oscar pula.
Bukan main panas hati Noni.
Ia menuduh telah terjadi konspirasi di belakang dirinya.
“Entahlah apa yang mereka pikirkan tentang saya.
Yang pasti, peran itu tiba-tiba direnggut dari saya,” katanya marah.
Sejak itu hubungannya dengan Gwyneth menjadi dingin.
Celakanya, tingkah Noni itu, lagi-lagi, dipandang sebagai hal yang kekanak-kanakan.
Di usia seperempat abad, Noni sudah dicap sebagai ‘biang kerok’ masalah di Hollywood.
Tidak seperti metamorfosisnya yang lalu --saat Noni memutuskan untuk menerima peran-peran dewasa di saat usianya masih belasan-- kali ini Noni justru bermetamorfosis dalam karakter yang keliru.
Sikapnya makin tidak dewasa dan
semau gue.
Dan, yang lebih parah, kecanduannya terhadap minuman keras semakin menjadi.
Vega Probo